This is my NaruSaku's fanfic, if dont like just dont read :D
.
Disclaimer Always Masashi Kishimoto~
.
Warning : Standard Applied. Ooc, Rush, and anything :)
.
.
When Rainy Days
.
.
.
Langit yang cerah
berubah menjadi gelap, mentari kini tertutupi oleh awan hitam yang menandakan
sebentar lagi akan turun hujan. Benar saja hanya dalam hitungan detik hujan
langsung mengguyuri tanah-tanah yang gersang, semua orang langsung berlarian
untuk berteduh, entah kenapa hujan kali ini benar-benar lebat seperti akan
terjadi badai saja. Hujan kadang membuat orang senang dan kadang membuat orang
sedih, kadang membuat orang bahagia dan kadang juga membuat orang sengsara,
semuanya tergantung dari situasi dan kondisi orang tersebut. Bukan hanya itu,
kadang ada orang yang senang dengan hujan dan ada kalanya orang membencinya.
Seperti seorang
gadis berambut soft pink yang sedang duduk di kursi barisan paling belakang
dalam sebuah bus. Ia menolehkan kepalanya ke jendela di sebelah kirinya, ia
mendesah kecil, sepertinya hujan kali ini ia tidak menyukainya, bagaimanapun
juga ia tidak mau pulang dengan keadaan basah kuyup, dijemput pun sepertinya
tidak memungkinkan, ia yakin hujan kali ini benar-benar menyebalkan.
Bus yang ditumpangi
oleh gadis berambut soft pink itu pun berhenti di sebuah halte, ia pun turun
dari bus tersebut dan langsung duduk di bangku halte yang sudah tersedia,
malang betul nasibnya, duduk di bangku halte sendirian tanpa ada yang
menemaninya. Apalagi dari tadi guntur terdengar bersahut-sahutan ria memekakkan
telinga yang mendengarnya. Ia terus merutuki nasibnya sekarang, sendirian hanya
ditemani guntur yang terus menyambar-nyambar sedari tadi, ditambah lagi hujan
yang benar-benar lebat, yang ia yakini akan berlangsung sangat lama, itu
benar-benar menyedihkan.
Ia melirik jam
tangan pinknya, memang ini belum terlalu sore, malah mungkin bisa dikatakan
masih siang, pukul 2 siang memang belum terlalu sore, bukan?. Tapi tetap saja
ia ingin cepat-cepat pulang ke rumah dan beristirahat, ia merindukan kasurnya
yang sangat nyaman untuk tidur. Jarang-jarang ia bisa pulang siang seperti ini,
biasanya ia akan sampai di rumah pukul 5 sore, tapi sepertinya kami-sama sedang
tak memihaknya hari ini, ia harus bersabar menunngu sampai hujan reda, mungkin
kalau hanya beberapa menit ia bisa mentolerir, tapi gimana ceritanya kalau
harus sampai satu jam menunggu ?! bisa mati kedinginan ia di sini. Sekarang ia
mengerti kenapa Sasori, kakak sepupunya paling tidak suka menunggu dan membuat
orang lain menunggu, kegiatan yang paling membosankan di dunia sepertinya
memang menunggu.
Gadis itu hanya
memandang lurus ke depan, terpaku pada rintikan jarum air yang menghujam bumi,
melamun? Ya, mungkin bisa dikatakan seperti itu. Namun tiba-tiba bulu kuduknya
berdiri, mungkin karena cuaca sangat dingin, ya, semoga saja memang karena
itu!. Tapi suasana memang terlihat mencekam dengan langit gelap seperti di
film-film horror, belum lagi jalanan yang mulai sepi, paling juga hanya ada
beberapa pengendara motor yang melintas di hadapannya, keadaan ini persis
seperti salah satu film horror yang ia lihat.
Lagi-lagi ia
mengkhayal tentang film horror, dimana tiba-tiba ada yang menepuk bahunya dan
ketika ia menengok, dibelakangnya ada sesosok hantu dengan wajah hancur
menyeringai kepadanya, ia rasa berhalusinasi seperti itu saat keadaan mendukung
seperti ini, bukanlah ide yang bagus, bukannya mengurangi rasa takutnya,
malahan menambah ketakutannya. Ya meskipun ia adalah pemegang sabuk hitam
karate di sekolahnya, Tokyo Vocation High School, tapi tetap saja ia hanyalah
seorang gadis remaja yang punya rasa takut, lagipula apa kemampuan karate bisa
mengusir hantu?!.
“Sakura-chan.”
Panggilan dari seseorang membuatnya semakin merinding, oh ayolah apakah
halusinasinya akan menjadi kenyataan, kalau iya, tadi ia memilih untuk tidak
mengkhayal yang tidak-tidak, dan hell , ia tidak menyangka ia juga terkenal di
dunia hantu, sampai hantu itu tau namanya! mungkin di sekolahnya atau lebih
tepat di kelasnya ia memang terkenal dengan gadis jutek, tapi ia benar-benar
tak menyangka bahkan ada hantu yang mengenalnya!. Rasa-rasanya ia belum pernah
berkenalan dengan satu hantu pun?! Oh, sepertinya gadis pinky ini yang ternyata
bernama Sakura harus menghentikan pikiran-pikiran konyolnya! hantu?? yang benar
saja?! mana mungkin!.
“Sakura-chan.”
Lagi-lagi ada yang memanggilnya, tapi kalau didengar secara seksama, sepertinya
ia kenal dengan pemilik suara ini. Dengan berat hati dan sangat perlahan ia
menolehkan kepalanya ke arah sumber suara tadi untuk memastikan apakah itu
suara hantu atau manusia atau mungkin lebih sial lagi kalau itu adalah malaikat
pencabut nyawa! Oh kami-sama tolonglah Sakura, ia belum siap untuk mati, ia
masih ingin tidur di kasurnya yang empuk.
‘Sakura bodoh apa
yang kau pikirkan! Mana mungkin seorang malaikat maut memanggil kliennya dengan
nada lembut seperti itu!...tunggu… lembut!’ batin Sakura. Yang tadinya menoleh
dengan sangat perlahan, sekarang ia tanpa ba bi bu lagi langsung menolehkan
wajahnya ke arah sumber suara tadi.
“Na..Naruto!!”
Reflek Sakura berteriak dan langsung bangun dari duduknya, ia melihat seorang
pemuda berambut kuning jabrik dengan manik mata sapphire sedang tersenyum
lembut ke arahnya. Ternyata yang tadi ia kira hantu atau malaikat maut adalah
temannya ketika di Tokyo Elementary School dan di Tokyo Junior High School,
bodohnya ia menyagka temannya sendiri adalah hantu.
“Hei, Sakura-chan,
kenapa? seperti melihat hantu saja!” Pemuda bernama Naruto itu terlihat bingung
dengan reaksi temannya, memang dia memanggilnya terlalu keras? Rasanya tidak!
Andai Naruto tahu, kalau Sakura memang berfikir bahwa dirinya hantu dan yang
lebih parah lagi adalah seorang malaikat maut.
“Gomen, kau
mengagetkanku, sedang apa?” tanya Sakura mencoba menetralkan rasa kagetnya
belum lagi jantungnya yang tiba-tiba berdebar.
“Hah? benarkah? Aku
kira tadi kau mendengar suara motorku yang menghampirimu! Gomen ne kalau
begitu, Sakura-chan.” Tunggu, apa dia bilang! motor? motor? Sakura langsung
mendongkakkan kepalanya melihat sesuatu yang ada di belakang Naruto, damn! Apa
ia sudah terlalu dalam melamun sampai-sampai tidak sadar ada suara motor yang
menghampirinya.
“Tidak apa-apa
Naruto, aku yang seharusnya meminta maaf karena tidak menyadari kehadiranmu”
sahut Sakura lagi-lagi mencoba menahan malu, ah sepertinya memang hujan kali
ini benar-benar menyebalkan, dan semoga saja cuaca dingin ini bisa membantunya
untuk menutupi rona merah di pipinya. Setidaknya agar dia tidak berpikiran
kalau Sakura blushing karena menahan malu.
Mengabaikan Naruto
yang menatapnya dengan aneh dan bingung, ia lebih memilih duduk kembali dan
meneruskan lamunannya. Lagi-lagi, entah untuk keberapa kalinya Sakura merutuki
nasibnya, menunggu hujan reda dan kilat menyambar-nyambar dengan seorang yang
bahkan pernah hinggap di hatinya, mungkin sampai sekarang pemuda di sampingnya
yang juga telah duduk di sebelahnya masih ada di hatinya. Pasti menurut kalian
itu adalah hal menyenangkan!. Ditemani orang yang kita sukai-ralat mungkin
lebih tepat kita cintai-adalah hal yang menyenangkan. Tapi kalian salah besar,
bagaimana pun juga pemuda itu telah memiliki tambatan hati! senang? salah
besar! ironis? iya.
Sakura
mengingat-ingat kenangan-kenangannya dengan pemuda ini, ketika di TES ia
dikenal sebagai anak yang cukup pintar, karena itulah meskipun Naruto berbeda
kelas dengannya, tapi mereka saling mengenal. Ia ingat ketika wali kelas
sekaligus guru matematikanya memberi tugas, dan memperbolehkan bekerjasama
dengan kelas lain, Naruto dan teman-temannya meminta bantuan kepadanya, tapi
berhubung Sakura memang pelit ia enggan untuk memberikan jawabannya kepada yang
lain, apalagi bukan teman sekelas, hingga akhirnya Naruto mengejarnya dan
mencoba mengambil bukunya.
Setelah lulus dari
TES, mereka masuk ke TJHS, di TJHS mereka menjadi teman sekelas, membuat mereka
semakin dekat saja. Sakura ingat dulu waktu ia baru beberapa bulan sekolah di
TJHS, ia sakit di kelas, lalu Naruto dan Kiba salah satu teman sekelasnya
ketika di TES yang membantunya ke UKS bersama Tenten teman sebangku Sakura
waktu di TJHS. Entah kenapa ia rasa Naruto sangat peduli padanya. Di samping kepeduliannya, Naruto juga sering membuatnya
kesal, waktu mereka satu kelompok dalam tugas diskusi yang diberikan, dia malah
bercanda dengan Kiba, padahal mereka kan tidak satu kelompok, tentu saja itu
membuat Sakura mengamuk ria.
Entah hobi atau
apa, Naruto memang senang mengganggunya, ia ingat betul waktu pelajaran IPS, ia
sedang membaca novel sembunyi-sembunyi agar tak ketahuan Iruka-sensei, Naruto
malah mengusik kesenangannya itu dengan berkata ‘perhatiin guru dong woy’
benar-benar menyebalkan!. Dan lihat, setelah Sakura kembali memperhatikan apa
yang disampaikan Iruka-sensei, sekarang giliran dia yang enak-enakan ngobrol
dengan Gaara. ‘dasar rubah durian, sialan!’ pikir Sakura, akhirnya dengan nada
mengejek ia pun membalas Naruto dengan perkataan yang sama, tapi malah dia hanya
nyengir tanpa dosa.
Tapi itu semua
berubah ketika kelas 9 awal, sepulang dari liburan bersama satu sekolah ke
pantai, semenjak saat itu hubungan mereka merenggang, entah Sakura yang
menjauhi Naruto, entah Naruto yang menjauhi Sakura. Bahkan Sakura pun bingung,
siapa yang menjauh, ia terus mengingat-ingat hal apa yang membuat mereka
menjauh, tapi tak terlintas jawaban barang satu pun.
Meskipun begitu,
Sakura masih tidak mengerti, karena Naruto sering kali tertangkap basah
memperhatikannya dalam diam, seperti saat itu, saat ia, Tenten, Temari, dan
Amaru sedang berjalan menuju kelas sehabis dari kantin. Temari bilang padanya
bahwa di atas tepatnya di balkon depan kelasnya, maklum kelas mereka di lantai
atas, Naruto sedang memerhatikan mereka dengan senyumannya dan eksperesi yang
tak Temari mengerti. Tapi saat ia menengok ke atas dia malah memalingkan
wajahnya.
Bukan hanya itu,
waktu itu, ketika kelas mereka diberi kepercayaan untuk menjadi petugas upacara
untuk yang terakhir kalinya sebelum lulus, mereka berlatih bersama. Sakura
menjadi pembawa acara, dan Naruto menjadi pemimpin upacara, tapi karena yang
menjadi pengibar bendera kurang satu orang laki-laki lagi, semua siswa malah
beribut ria, dan saling mendorong satu sama lain, sampai akhirnya semua tertawa
bersama, dan tanpa sengaja manik emerald Sakura bertemu dengan manik sapphire
Naruto, melihat Sakura tertawa lepas, Naruto tersenyum tulus kepadanya.
Sakura benar-benar
tersiksa dengan keadaan seperti ini, ia merasa benar-benar kehilangan pemuda
itu, ia rindu saat-saat mereka bercanda bersama, saat Naruto menjailinya, ia
bingung sebenarnya apa yang tengah ia rasakan, tapi kenyataan pahit membuatnya
sadar apa yang ia rasakan. Shikamaru anak pintar di kelas, namun pemalas dan
juga sekaligus sahabat Naruto bilang bahwa Naruto sudah punya pacar, hati
Sakura tiba-tiba mencelos dan merasakan sesak yang luar biasa, ia sadar bahwa
ia telah menyukai orang yang sempat dekat dengannya itu.
Tapi semuanya sudah
terlambat, ia sudah jauh dengannya, belum lagi sekarang dia sudah memiliki
kekasih, dan akhirnya ia memilih melupakan pemuda pirang itu, setidaknya itu
berhasil sampai awal kelas 11, setengah tahun yang lalu tepatnya. Naruto
kembali berhubungan dengannya lewat email, dan sering bertemu ketika hendak
naik bus sambil melempar senyum satu sama lain, membuat perasaannya muncul
kembali, dan semakin memperdalam perasaannya, yang ia yakini sekarang sudah
berubah menjadi cinta.
Ada satu momen lagi
yang membuat Sakura ingin tertawa, ketika semua siswa daftar ke jenjang yang
lebih tinggi, ia memasuki Tokyo Vocation High School dan Naruto masuk ke Tokyo
Senior High School, karena kebetulan Shikamaru daftar ke sekolah yang sama
dengan Sakura, jadi dia tahu Sakura masuk kelas apa. Bukan itu yang membuat
Sakura sweatdrop ria, tapi Naruto yang menanyakan kepada Shikamaru, Sakura
kelas apa, padahal jelas-jelas di samping Shikamaru, ia sedang mengobrol dengan
Temari, lalu kenapa Naruto tak bertanya langsung kepadanya saja, konyol, pikir
Sakura waktu itu. Tapi tak dipungkiri, gadis pinky itu senang, setidaknya ia
tahu bahwa pemuda pirang itu masih peduli padanya.
Dan ada satu
kalimat yang terlontar dari mulut Tenten yang selalu ia ingat. Tenten bilang
Naruto menjawab ‘soalnya tidak seru dan
tidak menyenangkan sih sehari saja nggak jailin Sakura-chan’ ketika Tenten
bertanya kenapa Naruto tak bosan-bosan membuat masalah dengannya. Menurut
Sakura itu bukanlah alasan yang logis, lalu Sakura berpikir apa sekarang
hari-hari pemuda itu tidak seru dan tidak menyenangkan, semenjak mereka merenggang,
rasanya ingin menanyakan itu, namun ia juga tak mau mempermalukan dirinya
sendiri dengan bertanya yang aneh-aneh.
Jadi benar bukan
kata ironis sangat cocok untuk Sakura? ayolah ia takut sangat-sangat takut
kalau perasaannya akan jauh lebih dalam dan dalam lagi pada pemuda dengan
cengiran rubah di sampingnya, setelah bertemu di halte ini. Bukankah dengan
email dan senyumannya saja bisa memperdalam perasaannya! apalagi kalau sampai
bertemu, atau bahkan terlibat dalam suatu perbincangan.
‘Aaarrgghhh~ sepertinya
ini memang hari yang buruk, entah kenapa aku jadi membenci hujan, padahalkan
aku ini salah satu hujan lovers, ini semua gara-gara pemuda sialan di
sebelahku’ rutuk Sakura dalam hati.
“Sakura-chan.”
Rasanya baru saja Sakura merutuk dalam hati, dan berharap agar tidak terlibat
dalam satu perbincangan pun, namun hari ini benar-benar hari sialnya, semua
yang ia harapkan tak membuahkan hasil apa pun.
“Sakura-chan aku
ingin bertanya sesuatu padamu.” ujar naruto kembali walaupun Sakura tak
menanggapi perkataannya barusan. Sakura hanya menengok sebentar dan
menganggukan kepalanya sembari tersenyum ke arah pemuda yang mendiami hatinya
itu, lalu kembali memilih melihat rintikan hujan di hadapannya. Bukan apa-apa
ia tak mau terpesona pada pemuda ini.
“Sakura-chan,
menurutmu apa yang harus seorang laki-laki lakukan bila menyukai seorang
perempuan yang belum tentu menyukainya juga?” tanya Naruto sambil melirik
sebentar ke arah Sakura.
Sakura menautkan
alisnya bingung, memang Naruto pikir ia ini laki-laki! seharusnya ia tanya saja
pada teman laki-laki sekelasnya. Tapi daripada menanyakan hal bodoh itu yang
mungkin akan memperlebar dan memperlama pembicaraan, ia lebih memilih
menjawabnya saja. Setelah itu, ia harap Naruto akan segera pergi dari tempat
ini, rasanya ia lebih memilih sendirian di sini, meskipun sedikit ketakutan,
daripada harus bersama pemuda pirang ini, yang membuatnya ingat memori-memori
silam.
“Menurutku harus
mengejarnya kalau laki-laki itu percaya bahwa dia bisa membuat perempuan itu
menyukainya, tapi dia harus menyerah kalau dia tidak percaya bahwa dia bisa
membuatnya menyukainya. Karena semuanya berawal dari kepercayaan dirinya
sendiri.” jawab Sakura panjang lebar tanpa menolehkan sedikitpun kepalanya ke
arah Naruto.
“Berarti kalau aku
menyukai Sakura-chan dan percaya kalau Sakura-chan juga bisa menyukaiku, aku
harus mengejar Sakura-chan ya.”
Deg…
Satu kalimat yang
diucapkan Naruto membuat darahnya bekumpul di wajah cantik nan jelita miliknya,
ia yakin wajahnya sudah memerah sekarang ini. Tak tahukah Naruto, perkataannya
barusan bisa membuat Sakura melayang dan jatuh di saat yang bersamaan? tak
tahukah Naruto, Sakura sangat berharap apa yang dikatakannya itu benar adanya
bukan hanya sekedar perumpamaan? tak tahukah Naruto, bagaimana perasaan Sakura
saat melayang dan jatuh di saat yang bersamaan? Sakit..sesak..senang..sedih
bercampur menjadi satu. Bagaimanapun Sakura mengakui bahwa ia memang mencintai
Naruto.
Rasanya ia ingin
pergi saja dari tempat ini menerjang ribuan air hujan di depannya, ia tak peduli
bila harus sakit karena itu, karena hatinya jauh lebih tersiksa bila harus
terus bersama pemuda ini. Baru saja akan pamit pada pemuda di sampingnya,
Naruto sudah menarik tangannya untuk berdiri. Cukup! pemuda pirang ini sudah
benar-benar membuat hatinya tak karuan, kalau terus begini ketakutannya akan
perasaannya yang bisa semakin dalam akan benar-benar terjadi.
Sakura ingin sekali
menarik pergelangan tangannya yang sedang digenggam oleh Naruto, tapi rasanya
ia terlau lelah, entah lelah karena apa, tapi rasanya ia tak punya tenaga untuk
sekedar menarik pergelangannya tersebut. Ia hanya memandangi wajah Naruto yang
sedang melihat rintikan hujan, pemuda ini benar-benar berubah, semakin tampan
dan manis. Sakura pun menggelengkan kepalanya, tidak dia tidak boleh terus
terpesona pada pemuda pirang ini.
“Sakura-chan
sepertinya sekarang hujan sudah tak terlalu lebat, biar kuantar kau pulang, ini
sudah hampir pukul setengah 4 sore.” Naruto pun menolehkan kepalanya ke arah
Sakura sambil tersenyum lembut.
Sakura hanya
mendongkakkan kepalanya melihat rintikan hujan, meskipun dari tadi ia seperti
melihat rintikan hujan tersebut, tapi sebenarnya ia sedang tenggelam dalam
pikirannya, sampai tak sadar hujan tak selebat tadi. Lalu ia pun melirik jam
tangan pinknya, benar apa yang Naruto bilang ini sudah hampir pukul setengah 4
sore, berarti sudah hampir satu setengah jam ia menunggu di sini. Tak terasa
ternyata ia kuat juga menunggu selama itu dengan lamunan-lamunannya.
Tapi, tak tahukah
Sakura, sebenarnya hujan sudah tak selebat sebelumnya dari tadi? tak tahukah
Sakura, Naruto sengaja memberitahukannya sekarang agar bisa lebih lama lagi
berduaan seperti ini dengannya? dan tak ingatkah Sakura, sebenarnya rumah
Naruto berlawanan dari rumahnya? itu artinya rumah Naruto sebelum halte ini,
jadi untuk apa Naruto jauh-jauh ke halte ini?. Itu karena Naruto melihat
seorang gadis bersurai merah muda yang dia yakini temannya itu turun dari bus,
dia tak mau melihat gadis itu sendirian di tengah hujan seperti ini.
“Tak usah Naruto, aku
bisa pulang sendiri kok.” Sakura pun menolak ajakan Naruto untuk diantar
pulang, bukan apa-apa memang niatnya ia ingin segera pergi dari hadapan pemuda
ini sebelum perasaannya terbaca. Sepintar apapun kita menyembunyikan perasaan,
tapi kalau kelamaan bersama orang yang kita cintai pasti akan menimbulkan efek
yang berbeda, salah tingkah misalnya, tidak, Sakura tak mau Naruto mengetahui
perasaannya.
“Ayolah
Sakura-chan, kalau kau nekad jalan tetap saja akan basah kuyup.”
“Memang apa bedanya
kalau aku naik motor denganmu? sama saja akan terkena air hujan, kan?” Sakura
pun bertanya dengan nada meremehkan, ia berharap Naruto tak akan memaksanya
lagi setelah ini. Sakura hanya bisa menautkan alisnya saat Naruto berjalan ke
arah motornya dan mengambil sesuatu sepertinyan itu sebuah jas hujan.
“Sakura-chan pakai
ini pasti tidak kehujanan.” ucap Naruto sambil memakaikan jas hujan tersebut
pada Sakura. Sakura hanya bisa menahan napas, jaraknya dengan Naruto terlalu
dekat, bahkan ia dapat merasakan hembusan napas pemuda di hadapannya ini.
Tidak, ini akan berefek tidak baik untuk tubuh dan jantungnya, ia merasakan
jantungnya berdentam sangat keras, ia juga yakin pasti sekarang wajahnya sudah
memerah padam.
Kami-sama sebegitu
sialnyakah Sakura hari ini? yang ia harapkan adalah pemuda ini menjauh darinya
bukan malahan sedekat ini dengannya. Bagaimana kalau sampai Naruto mendengar
detak jantungnya yang sedang berdentam dengan sangat kerasnya, itu mungkin
terjadi, kan? lagipula jaraknya dengan Naruto tinggal beberapa centi lagi.
Tapi Sakura tak
perlu takut, karena pemuda di hadapannya juga sedang sibuk dengan jutaan
kupu-kupu yang terasa berterbangan di rongga dadanya serta detak jantungnya
yang tiba-tiba terasa berdetak dengan begitu cepatnya seakan mau copot dari
tempatnya. Kalau Sakura mau lihat sebentar saja wajah Naruto, pasti ia melihat
garis-garis merah di pipi pemuda ini. Begitupun sebaliknya, andai Naruto mau
lihat sebentar saja seperti apa wajah Sakura sekarang, pasti ia akan bisa
melihat betapa manisnya Sakura ketika memerah. Tapi sayang keduanya sibuk
dengan jantung dan perasaannya masing-masing.
Sakura bingung
dengan gelagat Naruto, sepertinya jas hujan sudah terpakai rapi di tubuhnya,
semua kancing di belakang pun seperti sudah selesai disematkan. Tapi kenapa
Naruto tak kunjung berhenti memeluknya dan masih menenggelamkan kepalanya di
bahu sebelah kanannya. Ia ingin menyadarkan Naruto, tapi ia takut Naruto akan
tersinggung. Tapi sepertinya ia memang harus menyadarkannya, sudah 5 menit
berlalu tapi Naruto tak berkutik sedikitpun.
“Naruto apa belum
selesai? kalau belum, biar aku saja yang menyelesaikannya.” Akhirnya Sakura pun
mengeluarkan suara, ia mati-matian untuk tidak gugup, ia tak mau Naruto
menyadari perasaannya.
“Eh, su-sudah kok
Sakura-chan, gomen.” Naruto buru-buru melepaskan tangannya yang masih memeluk
tubuh ramping Sakura dan menjauh untuk memberi jarak keduanya.
Hening…
Tak ada satu pun
dari kedua belah pihak yang hendak mengeluarkan suara, Sakura bingung mau
mengatakan apalagi pada pemuda di sampingnya ini. Sedangkan Naruto, dia sedang
merutuki kebodohannya yang seenaknya saja memeluk Sakura seperti itu, walaupun
sungguh dia menyukai wangi tubuh Sakura. Suasana serasa canggung untuk
keduanya, ini benar-benar membuat mereka tak nyaman.
“Naruto, kalau
pacarmu tahu kau mengantarkanku pulang, apa tak akan salah paham?” tanya Sakura
pada Naruto, ia tak suka suasana seperti tadi, jadi lebih baik ia membuka topik
pembicaraan. Lagipula, ia memang tak mau dikatai perempuan perusak hubungan
orang atau perempuan perebut pacar orang. Tidak, ia tak mau diberi julukan
saperti itu, ia bukan wanita murahan yang seenaknya mengemis cinta pada
seseorang yang bahkan sudah memiliki pasangan, walau segimana ia mencintai
orang itu.
“Siapa maksudmu?”
tanya Naruto dengan nada malas, dia memang tak suka membahas ini. Sakura pun
tak mengerti, kenapa setiap Sakura menyinggung soal pacarnya, Naruto pasti akan
mengelak, padahal kepada teman-temannya yang lain tidak, Sakura tak habis pikir
pada Naruto.
“Jangan pura-pura
bodoh! aku dan kamu sama-sama mengetahuinya.” ujar Sakura sinis, ia pastikan
kali ini Naruto tidak boleh mengelak atau mengalihkan pembicaraan lagi.
“Aku sudah putus
dengannya.” jawab Naruto dengan sangat santai, seolah bukan perkara besar.
1 detik…
2 detik…
3 detik…
“APAAA!!!!” Sakura
pun berteriak sangat kencang bahkan membelah suara hujan yang masih cukup
lebat. Sakura hanya bisa melongo hebat dengan info yang ia dengar ini. Bukan,
bukan karena ini berita membahagiakan untuknya. Tak ada dalam kamus kehidupan
Sakura, bahagia atas penderitaan orang lain. Ia Cuma tak tega pada pemuda ini,
pasti pemuda ini sedang patah hati.
Lagipula sejak
kapan mereka berpisah. Rasanya 3 bulan yang lalu saat Naruto masih suka
berhubungan dengannya lewat email, Naruto belum putus dari pacarnya itu.
Bahkan, meskipun setelah mereka sama sekali tak pernah kirim email atau bertemu
lagi, tapi Sakura tahu Naruto masih pacaran dengan perempuan itu, karena memang
Sakura selalu membuka-buka facebook milik Naruto, ya mungkin bisa dibilang
seperti stalker, atau mungkin tindakan seperti itu adalah tindakan seorang
stalker. Tapi 2 bulan ini memang Sakura tak melakukan hal seperti itu lagi,
cukup 1 bulan saja ia menjadi orang bodoh.
Memang dalam kurun
waktu 2 bulan, semuanya bisa berubah, bahkan dalam 1 menit pun bisa saja mereka
berpisah. Tapi yang jadi masalahnya siapa yang memutuskannya dan siapa pihak
yang patah hati. Ia tak mau Naruto sakit hati, karena ia tahu pasti rasanya
sesak sekali. Sepertinya memang yang memutuskan adalah perempuan itu, mana mungkin
kan Naruto yang memutuskan, masa dia yang memulai dan dia juga yang mengakhiri
hubungannya.
“Sakura-chan tak
perlu seheboh itu. Memang kenapa kalau aku putus dengannya?” tanya Naruto
sambil menutup kedua telinganya karena suara Sakura benar-benar keras seperti
akan memporak-porandakan isi telinganya.
Pipi Sakura
memperlihat gurat-gurat kecil yang membuatnya tampak manis, Sakura sadar
reaksinya terlalu berlebihan, rasanya ia malu sendiri, jadi, ia pun hanya
menundukan kepalanya dalam-dalam. Takut jika Naruto melihat pipinya yang
memerah, ia pasti akan sangat malu sekali. Sebenarnya hal ini yang Sakura
rindukan, berteriak seenaknya pada Naruto, memukul Naruto, atau menceramahi
Naruto.
“Sudahlah
Sakura-chan, lagipula aku yang memutuskannya, aku tak menyukainya. Tadi kan kau
bilang kalau kita harus mengejar orang yang kita sukai. Sekarang aku tak akan
putus asa lagi, atau mencoba mencari pelarian.” ucap Naruto dengan cengirannya
seperti dulu yang Sakura sangat rindukan. Tapi sayang kalimat yang dituturkan
Naruto membuat Sakura tak memerhatikan cengiran itu.
“Hah? kau tidak
menyukainya? lalu kenapa kau memintanya jadi pacarmu?. Pasti dia sakit hati,
kau jahat sekali sih! seenaknya saja mempermainkan perasaan wanita. Kasihan
dia, bagaimana kalau ternyata dia masih menyukaimu?” Sakura pun mendongkakkan
kepalanya menatap heran manik sapphire Naruto. Rentetan pertanyaan keluar dari
mulut Sakura, kalau ada yang bilang Sakura senang, salah besar. Perlu
ditekankan sekali lagi, ia tak akan senang atas penderitaan orang lain,
bagaimanapun ia juga seorang wanita.
“Tidak, dia juga
sudah tak menyukaiku, buktinya sekarang dia sudah punya pacar baru.” jelas
Naruto santai, seperti tak ada rasa cemburu sedikitpun, meskipun dia bukan lagi
pacarnya, tapi tetap saja perempuan itu kan mantannya. Sakura tak habis pikir,
sebenarnya hubungan apa sih yang dilalui Naruto, bersama sudah 1 tahun, tapi
dengan mudah melupakan satu sama lain. Sakura saja yang tidak memiliki hubungan
dengan Naruto sampai sekarang belum bisa melupakan Naruto.
“Cintamu itu
benar-benar dangkal ya.” ejek Sakura pada Naruto. Ia merasa bodoh bisa-bisanya
mencintai orang seperti Naruto yang bisa dengan mudahnya berpaling. Setidaknya
ia bersyukur tak pernah menjalin hubungan dengan pemuda ini. Mungkin Naruto
akan memutuskannya begitu saja, lalu hanya Sakuralah yang masih mencintainya.
Setidaknya begini lebih baik, mencintai seseorang dalam diam.
“Apa seorang
laki-laki yang mencintai seorang perempuan dengan sangat meskipun sudah tak
bertemu berbulan-bulan, bahkan tak bisa melupakan perempuan itu meskipun sudah
menjalin hubungan dengan orang lain sebagai usahanya untuk melupakan perempuan
tersebut adalah se-o-rang yang me-mi-li-ki cin-ta dang-kal?” ucap Naruto dengan
penekanan di kalimat terakhirnya. Entah untuk keberapa kalinya Sakura menautkan
alisnya, ia tak mengerti apa maksud ucapan Naruto itu.
“Hah? apa maksudmu?
aku tidak mengerti.”
“Sudahlah lebih
baik cepat pulang sebelum hujan lebat lagi.” Naruto pun melengos pergi ke arah
motornya. Sakura pun hanya bisa mengikutinya di belakang, sungguh ia masih
memikirkan perkataan Naruto tadi yang terasa ambigu.
Naruto pun menyuruh
Sakura untuk naik ke motornya, yang hanya dijawab oleh Sakura dengan anggukan.
Naruto mengandarai motornya dengan sangat hati-hati, tentu saja di jalan masih
banyak genangan air hujan, dia tak mau motornya terpeleset bila terlalu cepat,
lagipula dengan begini waktunya dengan Sakura akan jauh lebih lama, kan?
Sakura bingung apa
ia harus melaknat hujan atau malah berterimakasih, pasalnya berkat hari hujan
seperti ini, ia bisa merasakan hal yang sudah lama ia rindukan, bercengkrama
dengan Naruto lagi, ia tak peduli bila Naruto tak memiliki perasaan padanya.
Bisa berteman dan bercengkrama seperti dulu saja, rasanya sudah sangat cukup.
Ia menarik kata-katanya tadi, ternyata hujan kali ini tak seburuk yang ia kira,
ia tak perlu mengundurkan diri menjadi seorang hujan lovers, selamanya ia akan
senang ketika hari hujan, karena hujan bisa membawa kebahagiaan tersendiri
baginya. Apalagi dibumbui kenangan ini.
Perasaan Naruto tak
jauh berbeda dengan Sakura, hujan kali ini membuatnya merasa bahagia,
setidaknya sudah lama dia tak merasa sedekat ini dengan Sakura. Meskipun ia
lebih menyukai ketika hari cerah, tapi sepertinya ia tak keberatan jika tak
melihat sinar sang surya lagi, kalau ketika hari hujan seperti ini bisa
membuatnya sedekat tadi dengan Sakura.
Tak terasa mereka
pun sudah sampai di kediaman Sakura, rasanya Naruto tak mengerti, bukankah dia
mengendarai motornya dengan sangat lambat, tapi kenapa bisa cepat sampai, yang
membuatnya harus cepat-cepat berpisah dari gadis musim semi yang sedang ia
bonceng di belakangnya ini. ‘motor sialan!’ pikir Naruto, bagaimanapun juga
waktu bisa berdua dengan Sakura seperti ini sangatlah langka, tapi kenapa harus
secepat ini berlalu. Akhirnya Sakura pun turun dari motor Naruto, rasanya
Naruto tak ingin berpisah dengannya, tapi apadaya, memang apa yang bisa dia
lakukan?
Naruto masih duduk
di motornya, dia hanya bisa memerhatikan Sakura yang sedang melepaskan jas
hujan milikinya tersebut. Sakura merasa risih dilihat Naruto seperti itu,
Naruto melihatnya terlalu intens, sudah begitu memerhatikannya dari bawah
sampai atas, dan tak henti-hentinya memerhatikan wajah cantik Sakura.
“Hm, ini Naruto jas
hujanmu, maaf gara-gara jas hujan aku yang pakai, kau jadi basah deh.” ujar
Sakura sambil memberikan jas hujan berwarna orange tua itu pada pemiliknya,
tersirat nada tak enak dari ucapan Sakura tadi. Tentu saja Sakura tak enak,
meskipun Naruto sendiri yang meminjaminya bahkan sampai memakaikannya.
“Tak apa, yang
penting Sakura-chan tak kehujanan.” sahut Naruto dengan cengiran rubahnya yang
Sakura rindukan. Kali ini Sakura melihat cengiran itu, hingga mebuat pipinya
memperlihatkan gura-gurat merah yang
sangat tipis, bahkan Naruto pun tak menyadarinya.
“Terimakasih sudah
peduli. Hati-hati di jalan ya, jangan sampai sakit lho.” Sakura tersenyum tulus
pada Naruto, yang menurut Naruto itu sangat manis, tak bisa dielakan lagi pipi
Naruto pun bersemu merah namun seperti Sakura, gurat-gurat di pipi Naruto pun
sangat tipis, tak disadari oleh Sakura barang sebentar pun.
“Terimakasih juga
mau peduli. Tentu saja aku akan peduli padamu… karena…” Naruto langsung
manancap gas pulang ke rumahnya, “…aku mencintaimu.” lanjut Naruto pelan ketika
sudah lumayan jauh dari kediaman Sakura.
“Aku akan selalu
peduli padamu… karena…aku mencintaimu.” ucap Sakura pelan, setelah itu ia
memasuki rumahnya dan menuju kamarnya untuk beristirahat di kasur yang sudah ia
rindukan.
‘aku mencintaimu.’
Satu kalimat itu terucap bersamaan di jarak yang terlalu dekat, namun suara
hujan menyembunyikannya. Satu kalimat yang mereka harapkan satu sama lain, satu
kalimat yang sampai saat ini mengganjal dua anak manusia itu, satu kalimat yang
terucap ketika hari hujan. Tapi sampai kapan mereka akan menyembunyikan
perasaan mereka masing-masing, sampai kapan takdir memainkan perasaan suci itu.
Sepertinya hanya kami-sama yang tahu, dan waktu yang bisa menjawabnya.
Ketika hari hujan apapun bisa terjadi, ketika
hari hujan ada memori yang teringat kembali, ketika hari hujan bisa menyatukan
dua sejoli. Hujan tak patut untuk kita benci, hujan adalah berkah yang harus
kita syukuri.
.
.
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar